# 10. Manifestasi Kekuatan

Maret 10, 2009 oleh versantus

fil47221

Manifestasi Kekuatan

Saat itu kau adalah seorang pengukir yang bekerja dengan patron tak terlihat.

17 hasta kepingan kayu kau penuhi dengan rangkaian corak tak terputus.

Sekarang kau adalah seorang perencana yang melihat jauh ke depan.

Kau tak akan berhenti sebelum visi yang jauh itu dapat kau rengkuh.

Saat itu kau adalah seorang konduktor yang meramu kompleksitas nada-nada.

Kau menyatukan ritme bass, harmoni celo dan melodi biola dalam satu simphony.

Sekarang kau menjadi konspirator yang menjalankan rencana kompleks tak terduga.

Tak seorangpun yang dapat menebak pola rencana-rencana yang kau reka.

Saat itu kau adalah seorang penyulam yang bekerja dengan gradasi warna benang.

Kau memadukan 81 warna benang dalam sebuah deskripsi pemandangan senja.

Sekarang kau berdiri di belakang seorang panglima dan menjadi tulang punggungnya.

Kau lah yang merangkai 1001 karakter menjadi satu pasukan tanpa tanding.

Saat itu kau adalah pelukis yang melihat keindahan pada berbagai benda.

Juga kau sadari keindahan pada tetesan embun di kelopak alamanda.

Sekarang kau adalah pendengar yang selalu memaklumi segala keluh kesah

Juga kau menjadi pelindung setia bagi seseorang yang kau cintai.

Kau telah menjadi sesuatu yang berbeda haluan dengan bayangan manusia.

Kau telah memilih jalan itu karena kau lebih mengutamakan dharma.

Kau utamakan dharma daripada mencari kepuasan pribadi dan aktualisasi diri.

Kau sadari… dunia butuh sesuatu yang bermanfaat bukan yang sesuatu yang mengagumkan.

Ini bukanlah pilihan jati diri.

Melainkan pilihan cara memanifestasikan kekuatanmu.

Kau tidak kehilangan jati dirimu dengan memilih haluan yang berbeda.

Jiwa yang ceria itu tetap hidup di dalam jasad yang mengisi waktu dengan perjuangan.

Kau sadari bahwa mematikan gairah dalam dirimu adalah kemustahilan.

Karena gairah itulah yang menunjukkan bahwa kau adalah seorang insan.

Kau hanya mengejawantahkan kekuatanmu dalam sebuah wujud kepahlawanan.

Juga dalam wujud ketaatan hamba pada Tuhannya.

Biarlah pahat, dawai, jarum, dan kanvas itu tersimpan.

Biarlah tinta, meja, peta, dan kesabaran menjadi temanmu.

Kelak kau akan kembali menjadi pengukir, konduktor, penyulam, atau pelukis.

Ketika sebelah kakimu telah melintasi gerbang nirwana.

Jakarta, 12 Rabiul Awal 1430 H

Free Talk :

Setelah satu tahun vakum menulis, akhirnya terlahir lagi tulisan saya. Tulisan ini merupakan penjelasan kenapa saya kurang begitu produktif dalam membuat tulisan walaupun banyak dorongan dari teman-teman untuk menulis. Yah,  simpelnya, saya sejak dahulu sudah memilih untuk lebih fokus menjadi seorang engineer daripada seorang penulis :D . Pada saat ini, walaubagaimanapun, seorang engineer akan memberikan manfaat lebih besar daripada seorang penulis. Tidak selamanya pendapat ini benar, hanya saja kondisi saya saat ini memang begitulah keadaannya :D .

# 9. Jalan Itu Telah Dipilih

Mei 20, 2008 oleh versantus

Jalan itu telah dipilih

Teruslah melaju ke depan …

Segala keraguanmu telah pudar seperti menguapnya bulir-bulir embun di tengah terik padang pasir.

Sekali lagi, matamu telah melihat ujung jalan yang akan kau tapaki

Di bawah cerahnya langit di saat angin timur berhembus kau lihat juga puncak impian yang senantiasa terlukis pada goresan penamu.

Ada tembok baja yang menghalangi jalanmu, tapi kau yakin hentakan pukulanmu akan mengubahnya menjadi kepingan-kepingan.

Ada jurang yang membatasi langkahmu, tapi kau memiliki kebebasan yang akan membawamu melayang melewatinya.

Waktu adalah sesuatu yang tak pasti ada dalam genggamanmu, tapi desiran dedaunan berkata detak jantungmu tak akan berhenti sebelum impian itu tercapai.

Air mata darah akan menggerus nadimu, tapi apalah artinya goresan pada jasad fana bagi seseorang yang telah melihat kematian.

Penderitaan bukanlah sesuatu yang kau hindari, melainkan sesuatu yang selalu kau kejar.

Tiada lain karena bagimu penderitaan adalah bukti bahwa kau sedang melintasi jalan kebenaran.

Setiap takdir yang mendera tubuhmu tak akan cukup untuk membuatmu meneteskan air mata.

Tiada lain karena air matamu telah kau persembahkan untuk mereka yang kau cintai.

Yakinlah segala yang ada dalam mimpimu bukanlah impian atau fatamorgana …

Itu adalah takdir yang akan terpenuhi.

Tiada yang mustahil jika kau bersandar pada penyangga langit … Dia Yang Maha Berkehendak …

Jangan hiraukan tatapan mata dan seruan di kiri kanan mu.

Rentangkan kedua tanganmu, biarkan ragamu melayang bersama hembusan angin.

Tak akan ada yang dapat menahan lajumu seperti tak ada temali yang bisa mengikat kabut.


Dari aku yang paling mengerti siapa diriku

Bandung, 10 April 2005

Free Talk:

Bagi saya, Ini merupakan tulisan yang dapat mendeskripsikan diri saya seutuhnya. Di dalam tulisan ini, saya meracik nuansa kebebasan, kepercayaan diri, serta luapan kekuatan yang terkendali di dalam batas-batas hakikat seorang insan. Adapun hal yang melatar belakangi lahirnya tulisan saya adalah tuntasnya tugas-tugas saya di kepanitiaan pemilu KM ITB 2005. Setelah tugas ini selesai, saya merasa memiliki kebebasan untuk memilih takdir saya, tanpa dipengaruhi oleh pihak-pihak manapun. Ketika menulis prosa ini, saya membayangkan tokoh Hok Pu Fei di dalam sebuah novel mandarin yang berjudul “Killer Sword”. Hok Pu Fei merupakan karakter yang bebas, tidak terikat oleh peraturan dan batas-batas apapun. Dia juga merupakan seseorang yang cukup capable, sehingga dia bisa melakukan hal-hal yang sulit dilakukan oleh orang-orang pada umumnya. Sewaktu saya mencetak tulisan ini untuk dipajang di kamar, saya menyertakan gambar tokoh “Kyo” dari anime Samurai Deeper Kyo. Saya pikir, sebagai karakter yang tidak terikat pada apapun, Kyo cukup merefleksikan tulisan ini. Tulisan ini ditampilkan pada suksesi Kamil 2006 oleh seorang rekan TL 02, tanpa mengetahui bahwa ini adalah tulisan saya. Saya sendiripun terheran-heran, kenapa tulisan saya bisa ditampilkan tanpa ada yang konfirmasi terhadap saya. Teman itupun lupa, entah darimana dia mendapatkan tulisan saya ini pada saat itu. :D

# 8. Bunga Abadi

Mei 20, 2008 oleh versantus

Bunga Abadi

Kau telah melukis sebuah roman pada hamparan usiamu, sebuah alur yang tidak akan ditemukan selain pada kisah kepahlawanan.

Hingga saat ini engkau masih menggenggam kebenaran Ilahi walaupun rasanya seperti menggenggam kuningan yang membara

Jauh sebelum itu kau telah mengetahui bahwa agar kebenaran itu tetap bersamamu, kau harus membayar dengan kebahagiaan masa mudamu

Namun akhirnya Tuhanmu jugalah yang kau pilih, walau mengharapkan buah kebaikan seperti menunggu delima yang tak pasti kapan akan berputik.

Untuk mencari makna hidup, engkau melintasi gurun di saat manusia terhenti pada oase dan terlena di bawah bayangan pohon palma.

Kau menyimpan pita berwarna toska lalu mengenakan cadar berwarna gelap, dengan itu kau berharap dapat melihat aral dengan ketegaran.

Liontin berhias baiduri kau gantikan dengan lencana tembaga, dengan itu kau berharap dapat menutupi kelemahan yang menjadi fitrahmu.

Hanya corak bunga persik di sudut lencana menyiratkan, jauh di dalam engkau tetaplah insan yang haus akan welas asih yang murni.

Akhirnya begitu banyak luka yang meninggalkan guratan pada buku harianmu, hingga tak ada yang dapat mengobatinya selain air mata.

Tetapi karena kau berani menantang dunia di saat manusia bertekuk lutut, akhirnya kau menjadi edelweis keperakan yang terasing di tebing curam.

Dia tidak memiliki cerahnya bunga dahlia, tidak juga semerbak sedap malam ataupun manisnya nektar bunga cempaka.

Namun pengembara yang faham akan arti kehidupan mengetahui, pada bunga abadi itu berpadu kekuatan yang terkendali dan kelembutan yang tak akan layu.

Suatu saat manusia akan berkata, hatimu terbuat dari butiran es, karena kau tak membiarkan langkah yang tak berhak mendekati gapuranya.

Tapi biarlah, dengan itu kau menjadi teratai di tengah telaga, dia terlihat agung karena terjaga dari jangkauan jemari berdebu.

Ketika saat-saat sulit kembali mendera, jangan biarkan pijakan kaki menjadi goyah dan jangan biarkan genggaman tangan menjadi longgar.

Bertahanlah, karena penghujung musim gugur adalah saat musim semi bermula, dan saat yang paling gelap adalah sebelum fajar merekah.

Untuk seorang rekan yang menggenapkan usianya di hari ini, bersiagalah

Untuk seorang rekan yang menggenapkan usianya 5 hari yang lalu, lihatlah ke depan

Untuk seorang kakak yang ketundukannya kepada Tuhan tengah diuji, kau tidak sendiri

Untuk penerus estafet di kampus, kepercayaan ini hanya diberikan kepada yang terpilih

Untuk adik-adikku generasi pelurus, terima kasih dan selamat tinggal

Parijs Van Java, 22 Juni 2007

FREE TALK:

Tulisan ini saya buat pada masa-masa akhir saya berada di kampus. Inti dari tulisan ini adalah bagaimana saya menitipkan harapan kepada orang-orang yang saya percaya. Saya berharap ada yang meneruskan berbagai hal yang telah saya lakukan di kampus. Pada saat menulis ini, saya membayangkan salah satu scene pada ending anime Saint Seiya, yaitu ketika 12 gold saint mengorbankan nyawa mereka untuk memberikan jalan bagi para bronze saint. Mereka menitipkan harapan untuk tetap berjuang dan menuntaskan misi. Para bronze saint kemudian menuntaskan misi mereka dan memenuhi harapan itu. Yah, bisa dibilang saya kehilangan nyawa setelah menyelesaikan tulisan ini, karena sudah hampir setahun sejak tulisan ini dibuat, saya belum bisa membuat sebuah prosa yang baru :D .

#7. Lafaz (surat untuk ibu)

Mei 20, 2008 oleh versantus

Lafaz (surat untuk ibu)


Ini adalah kedua kalinya daun-daun mahoni berganti semenjak pertemuan kita yang terakhir. Ananda tidak sanggup menanyakan bagaimana kabar ibunda. Semenjak hari itu, apabila ananda bertanya, tidak akan ada jawaban yang ananda dapat. Ibunda dapat mendengarnya, namun tidak akan pernah dapat menjawabnya. Pun dirimu menjawab, tirai yang membatasi tempat kita berada akan menjadi penghalang setiap untaian katamu sampai ke indra ananda.

Batas dunia telah memisahkan kita. Kini di saat Ibunda jauh, ananda memiliki banyak waktu untuk merenungkan banyak hal. Terutama apa-apa yang telah ananda dan Ibunda alami bersama. Ananda teringat ketika dahulu ananda memutuskan banyak langkah ke depan tanpa mendengarkan pendapatmu. Pernah pula ananda mengucapkan kalimat – kalimat tanpa mengindahkan perasaanmu. Entah berapa kali terucap kebenaran yang tidak pada tempatnya, lalu hati yang angkuh ini berkeras dengan “kebenaran” itu.

Waktu itu, ananda merasa pendapat Ibunda senantiasa berada di seberang pendapat ananda, dan pada kisi-kisinya, ananda seringkali beranggapan bahwa Ibunda memiliki pendapat yang jauh dari kebenaran.

Ah … andaikata ananda renungkan kembali segalanya, betapa rasanya seperti seorang yang tidak pernah bercermin, tiba-tiba melihat bayangan wajahnya yang tidak rupawan di atas telaga. Sungguh banyak kebenaran yang tidak terungkap apabila seseorang tidak melihat dari berbagai sisi. Kita tidak akan pernah mengetahui kemilau kuarsa apabila tidak meletakkannya pada naungan cahaya sebagaimana kita tidak akan mengetahui tawarnya mata air bila tidak direguk.

Banyak tunas – tunas muda yang tumbuh mengejar cahaya dan melupakan ranting tempatnya tumbuh. Betapa anak-anak palem yang rendah seolah akan tumbuh menjadi nyiur yang tinggi.

Ananda menyadari bahwa saat itu jiwa ini masih begitu mentah. Lafaz – lafaz suci tidak akan bisa diletakkan pada lisan yang belum bisa membedakan nira yang masih bersih dengan nira yang telah menjadi arak.

Ibunda, maafkan ananda yang belum memahami hakikat kehidupan, namun terlalu berani untuk memutuskan jalan mana yang harus ditempuh.

Putramu ini membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menyadari segala kesalahan itu. Baru kini ananda menyadari betapa bijak ibunda menyikapi segala yang ananda pernah ucapkan.

Dari sela-sela tatapan mata, Ibunda mengetahui jiwa yang masih terlalu hijau ini, pun terbungkus oleh ujar – ujar kebijakan yang sebenarnya tidak ananda pahami seutuhnya. Setiap kali Ibunda mendengar cerita mengenai impian-impian ananda yang naif, Engkau hanya mendiamkannya. Setiap kali ananda berbicara mengenai keyakinan akan sesuatu yang sesungguhnya adalah utopia, Engkau tidak menyalahkan. Ibunda memahami diri ananda jauh melebihi ananda memahami diri sendiri. Ibunda pernah berkata, di balik diammu, telah tertanam suatu pengertian yang mendalam bahwa kelak hanya waktulah yang dapat mematangkan jiwa ini. Kelak hanya waktulah yang akan meresapkan sari pati kearifan ke dalam nafas anakmu ini.

Kini umur ananda telah genap 22 tahun, usia yang belum bisa dikatakan seutuhnya dewasa. Akan tetapi ananda telah menyadari banyaknya kebenaran pada kata – katamu yang terkuak setiap lembar kalender berganti. Aroma rempah – rempah tidak akan meresap ke dalam makanan apabila hanya direndam dalam satu kejapan. Membentuk kepahaman akan kebenaran hakiki membutuhkan waktu. Waktu menjadi gapura di sini. Betapa ananda akhirnya menyadari bahwa insan yang lemah ini sangat beruntung memiliki seorang ibu yang memahami jiwanya.

Ananda pernah mendengarkan cerita seorang pemuda palestina bernama Fathi Farahat. Dia memiliki seorang ibu yang senantiasa mengobarkan semangatnya untuk menjemput surga. Sempat terpikirkan, kenapa Ibunda tidak melepaskan ananda ke dunia perjuangan yang dipenuhi gelora para wira. Kenapa Ibunda tidak memberikan restu pada jemari ini untuk menulis suatu saga kepahlawanan pada buku harian. Bukankah wujud kasih sayang seorang ibu adalah dengan membantu anaknya dalam mengejar impian. Begitulah pikiran yang timbul dari darah muda yang mengalir dengan derasnya.

Namun kali ini ananda bisa lebih memahami. Tiada yang membedakan antara kasih sayang darimu kepada ananda dengan kasih sayang Ummu Fathi kepada anaknya. Hanya saja Fathi lahir di dalam masa penjajahan, sehingga kasih sayang terlafaz dalam kata perjuangan. Sedangkan anakmu ini lahir di saat kebenaran tercampur aduk dengan kebatilan sehingga kasih sayang yang terlafaz adalah kearifan.

Ibunda …

Ananda menyadari bahwa andaikan ananda menyelami lautan lalu memberikan seluruh mutiara yang ada di dalamnya, itu tidak akan dapat membalas segala kasih sayang Ibunda yang telah tercurah, walaupun hanya sebesar mata jarum.

Selain itu, walaupun berat, ananda harus mengakui bahwa ananda tidak memiliki welas asih terhadap ibunda sedalam welas asih ibunda terhadap diri ini. Sebagian orang berkata ini adalah fitrah. Sebagian lagi berkata ini adalah anugerah yang hanya diberikan Zat Yang Maha mengetahui hati manusia kepada seorang ibu.

Pembenaran apapun yang ananda ucapkan, tetap saja ananda menyesalkan hal ini. Alangkah indahnya apabila kasih sayang spontan ananda terhadap ibunda sama dalamnya dengan yang ibunda berikan. Alangkah indahnya bila ananda memiliki keinginan berkorban demi ibunda seperti yang selalu ibunda tunjukkan.

Ibunda …

Mungkin hal itu tidak akan pernah terwujud. Namun tetap saja ananda harus memberikan hakmu atas belahan jiwamu ini.

Pun segala upaya yang ananda berikan sebagai wujud bakti terhadapmu tidak akan pernah dapat membayar segenap hutang curahan kasihmu, biarkan ananda tetap berusaha untuk memberikan yang terbaik.

Ibunda …

Semoga ananda dapat menjadi kebanggaanmu di dunia. Semoga ananda dapat memberikan kebaikan yang tiada putus dengan doa ananda ketika jasad ini masih menjejak bumi, dan semoga kemudian memberikan syafaat yang menyejukkan bagimu apabila jasad ini telah dirangkul bumi.

_____

Untuk almarhumah Ibunda Ratna Komala Sari

Bandung, 4 April 2006

Free talk:

Tulisan ini saya sertakan di dalam lomba menulis surat cinta kepada ibu yang diselenggarakan oleh LSM WISE Bandung dan mendapat juara ke-2. LSM ini bergerak di bidang pemberdayaan perempuan. Lomba diselenggarakan ini dalam rangka peringatan hari ibu pada 21 April 2006. Tidak aneh kalau saya jadi minoritas pria yang ada di ruangan seminar pada saat pemberian hadiah. Tulisan ini merupakan salah satu tulisan yang paling sulit saya selesaikan. Saya tidak memahami kenapa begitu sulit menyelesaikannya, barangkali salah satu penyebabnya karena wafatnya ibu saya, kira-kira 2 tahun sebelumnya masih menibulkan jejak kehampaan.

# 6. Kata Terakhir dari Seorang Adik

Mei 20, 2008 oleh versantus

Kata Terakhir Dari Seorang Adik

Kakak, telah dua kali dedaunan di utara berguguran semenjak kita semua bernaung di bawah panji-panji yang sama.

Kita adalah bintang-bintang yang menyusun suatu konstelasi di bawah mantel biru sang langit.

Sayang sekali kalau akhirnya pena takdir menggoreskan bahwa ikatan antara kita akan terurai dan kita pun akan terpencar ke delapan penjuru angin.

Namun itu tak akan terlalu menyesakkan dada.

Walau bagaimanapun akhirnya sang waktu jugalah yang akan merajut kembali konstelasi yang telah terurai itu, meskipun kita terpisah sejauh bintang utara dan bintang timur di senja hari.

Kakak, gunung yang akan kau daki sungguh tinggi, gurun yang akan kau lintasi sungguh menggetarkan hati, sungai yang akan kau seberangi sungguh deras dan perjalanan yang akan kau lakukan akan penuh genangan air mata atau bahkan genangan darah.

Semua itulah yang akan menempa dan membentukmu yang saat ini masih seperti berlian yang baru dipetik dari batu gunung dan belum bisa dibedakan dengan pecahan kaca.

Tempaan itu lambat laun akan menjadikan perbedaan antara berlian dan pecahan kaca semakin terlihat jelas terlebih ketika Kakak telah menjadi berlian bersisi 48 yang memantulkan sinar emas mentari ke manapun mata dipalingkan.

Pada saat itu kami akan berbangga karena pernah memilikimu.

Tetapi jangan sampai terurainya ikatan kita menyebabkan jiwa persaudaraan kita menjadi seperti pecahan batu karang yang didera gelombang dan tidak akan pernah lagi dapat disatukan sekalipun oleh tangan seorang pengukir ulung.

Andaikata hal itu benar-benar terjadi, artinya rasa kasih yang telah menjadi saripati persaudaraan kita tak lebih daripada ranting kering yang gugur dan menunggu untuk dilemparkan ke dalam perapian yang dipenuhi api kebencian.

Karena itu, sekalipun takdirmu lebih pedih daripada goresan belati, tetaplah beri tempat bagi kami untuk hadir di hatimu, karena kami pun akan menyatukan jiwamu dalam nafas kami.

Kakak, kami relakan kepergianmu, semoga jalanmu akan diterangi cahaya dan yakinlah kami akan mengikutimu sebab walau bagaimanapun harimau sepertimu tidak akan pernah bersaudara dengan kucing.

From Fanny to P M & Y L

Padangpanjang, Mei 2001

Free Talk:

Ini termasuk salah satu tulisan pertama saya, digubah sewaktu saya kelas 2 SMU. Tulisan ini saya kirimkan kepada dua orang senior, Uni Popi Maria dan Yetri Leili sewaktu mereka akan lulus SMU. Tema dari tulisan ini adalah perpisahan. Bersama tulisan “Layu”, tulisan ini juga dimuat di majalah Horizon edisi Maret 2002.