
Lafaz (surat untuk ibu)
Ini adalah kedua kalinya daun-daun mahoni berganti semenjak pertemuan kita yang terakhir. Ananda tidak sanggup menanyakan bagaimana kabar ibunda. Semenjak hari itu, apabila ananda bertanya, tidak akan ada jawaban yang ananda dapat. Ibunda dapat mendengarnya, namun tidak akan pernah dapat menjawabnya. Pun dirimu menjawab, tirai yang membatasi tempat kita berada akan menjadi penghalang setiap untaian katamu sampai ke indra ananda.
Batas dunia telah memisahkan kita. Kini di saat Ibunda jauh, ananda memiliki banyak waktu untuk merenungkan banyak hal. Terutama apa-apa yang telah ananda dan Ibunda alami bersama. Ananda teringat ketika dahulu ananda memutuskan banyak langkah ke depan tanpa mendengarkan pendapatmu. Pernah pula ananda mengucapkan kalimat – kalimat tanpa mengindahkan perasaanmu. Entah berapa kali terucap kebenaran yang tidak pada tempatnya, lalu hati yang angkuh ini berkeras dengan “kebenaran” itu.
Waktu itu, ananda merasa pendapat Ibunda senantiasa berada di seberang pendapat ananda, dan pada kisi-kisinya, ananda seringkali beranggapan bahwa Ibunda memiliki pendapat yang jauh dari kebenaran.
Ah … andaikata ananda renungkan kembali segalanya, betapa rasanya seperti seorang yang tidak pernah bercermin, tiba-tiba melihat bayangan wajahnya yang tidak rupawan di atas telaga. Sungguh banyak kebenaran yang tidak terungkap apabila seseorang tidak melihat dari berbagai sisi. Kita tidak akan pernah mengetahui kemilau kuarsa apabila tidak meletakkannya pada naungan cahaya sebagaimana kita tidak akan mengetahui tawarnya mata air bila tidak direguk.
Banyak tunas – tunas muda yang tumbuh mengejar cahaya dan melupakan ranting tempatnya tumbuh. Betapa anak-anak palem yang rendah seolah akan tumbuh menjadi nyiur yang tinggi.
Ananda menyadari bahwa saat itu jiwa ini masih begitu mentah. Lafaz – lafaz suci tidak akan bisa diletakkan pada lisan yang belum bisa membedakan nira yang masih bersih dengan nira yang telah menjadi arak.
Ibunda, maafkan ananda yang belum memahami hakikat kehidupan, namun terlalu berani untuk memutuskan jalan mana yang harus ditempuh.
Putramu ini membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menyadari segala kesalahan itu. Baru kini ananda menyadari betapa bijak ibunda menyikapi segala yang ananda pernah ucapkan.
Dari sela-sela tatapan mata, Ibunda mengetahui jiwa yang masih terlalu hijau ini, pun terbungkus oleh ujar – ujar kebijakan yang sebenarnya tidak ananda pahami seutuhnya. Setiap kali Ibunda mendengar cerita mengenai impian-impian ananda yang naif, Engkau hanya mendiamkannya. Setiap kali ananda berbicara mengenai keyakinan akan sesuatu yang sesungguhnya adalah utopia, Engkau tidak menyalahkan. Ibunda memahami diri ananda jauh melebihi ananda memahami diri sendiri. Ibunda pernah berkata, di balik diammu, telah tertanam suatu pengertian yang mendalam bahwa kelak hanya waktulah yang dapat mematangkan jiwa ini. Kelak hanya waktulah yang akan meresapkan sari pati kearifan ke dalam nafas anakmu ini.
Kini umur ananda telah genap 22 tahun, usia yang belum bisa dikatakan seutuhnya dewasa. Akan tetapi ananda telah menyadari banyaknya kebenaran pada kata – katamu yang terkuak setiap lembar kalender berganti. Aroma rempah – rempah tidak akan meresap ke dalam makanan apabila hanya direndam dalam satu kejapan. Membentuk kepahaman akan kebenaran hakiki membutuhkan waktu. Waktu menjadi gapura di sini. Betapa ananda akhirnya menyadari bahwa insan yang lemah ini sangat beruntung memiliki seorang ibu yang memahami jiwanya.
Ananda pernah mendengarkan cerita seorang pemuda palestina bernama Fathi Farahat. Dia memiliki seorang ibu yang senantiasa mengobarkan semangatnya untuk menjemput surga. Sempat terpikirkan, kenapa Ibunda tidak melepaskan ananda ke dunia perjuangan yang dipenuhi gelora para wira. Kenapa Ibunda tidak memberikan restu pada jemari ini untuk menulis suatu saga kepahlawanan pada buku harian. Bukankah wujud kasih sayang seorang ibu adalah dengan membantu anaknya dalam mengejar impian. Begitulah pikiran yang timbul dari darah muda yang mengalir dengan derasnya.
Namun kali ini ananda bisa lebih memahami. Tiada yang membedakan antara kasih sayang darimu kepada ananda dengan kasih sayang Ummu Fathi kepada anaknya. Hanya saja Fathi lahir di dalam masa penjajahan, sehingga kasih sayang terlafaz dalam kata perjuangan. Sedangkan anakmu ini lahir di saat kebenaran tercampur aduk dengan kebatilan sehingga kasih sayang yang terlafaz adalah kearifan.
Ibunda …
Ananda menyadari bahwa andaikan ananda menyelami lautan lalu memberikan seluruh mutiara yang ada di dalamnya, itu tidak akan dapat membalas segala kasih sayang Ibunda yang telah tercurah, walaupun hanya sebesar mata jarum.
Selain itu, walaupun berat, ananda harus mengakui bahwa ananda tidak memiliki welas asih terhadap ibunda sedalam welas asih ibunda terhadap diri ini. Sebagian orang berkata ini adalah fitrah. Sebagian lagi berkata ini adalah anugerah yang hanya diberikan Zat Yang Maha mengetahui hati manusia kepada seorang ibu.
Pembenaran apapun yang ananda ucapkan, tetap saja ananda menyesalkan hal ini. Alangkah indahnya apabila kasih sayang spontan ananda terhadap ibunda sama dalamnya dengan yang ibunda berikan. Alangkah indahnya bila ananda memiliki keinginan berkorban demi ibunda seperti yang selalu ibunda tunjukkan.
Ibunda …
Mungkin hal itu tidak akan pernah terwujud. Namun tetap saja ananda harus memberikan hakmu atas belahan jiwamu ini.
Pun segala upaya yang ananda berikan sebagai wujud bakti terhadapmu tidak akan pernah dapat membayar segenap hutang curahan kasihmu, biarkan ananda tetap berusaha untuk memberikan yang terbaik.
Ibunda …
Semoga ananda dapat menjadi kebanggaanmu di dunia. Semoga ananda dapat memberikan kebaikan yang tiada putus dengan doa ananda ketika jasad ini masih menjejak bumi, dan semoga kemudian memberikan syafaat yang menyejukkan bagimu apabila jasad ini telah dirangkul bumi.
_____
Untuk almarhumah Ibunda Ratna Komala Sari
Bandung, 4 April 2006
Free talk:
Tulisan ini saya sertakan di dalam lomba menulis surat cinta kepada ibu yang diselenggarakan oleh LSM WISE Bandung dan mendapat juara ke-2. LSM ini bergerak di bidang pemberdayaan perempuan. Lomba diselenggarakan ini dalam rangka peringatan hari ibu pada 21 April 2006. Tidak aneh kalau saya jadi minoritas pria yang ada di ruangan seminar pada saat pemberian hadiah. Tulisan ini merupakan salah satu tulisan yang paling sulit saya selesaikan. Saya tidak memahami kenapa begitu sulit menyelesaikannya, barangkali salah satu penyebabnya karena wafatnya ibu saya, kira-kira 2 tahun sebelumnya masih menibulkan jejak kehampaan.